
METRO — Panggung kompetisi kembali menjadi ruang pembuktian bagi mahasiswa Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro). Pada 13 September 2026, tim Teknik Mesin UM Metro mencatatkan prestasi dengan meraih Juara 1 Kategori Mahasiswa dalam RENOV COMPETITION IV 2026 yang diselenggarakan di UIN Jurai Siwo Lampung.
Prestasi tersebut diraih oleh tim yang diketuai Diki Wahyudi, bersama Egi Ardiansyah dan Kaka Sandi Prandika sebagai anggota. Ketiganya tampil membawa kemampuan, ketelitian, kreativitas, serta kekompakan untuk bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Lampung.
Kemenangan ini menjadi lebih dari sekadar tambahan koleksi prestasi. Bagi Teknik Mesin UM Metro, kompetisi menjadi arena untuk menguji sejauh mana kemampuan yang diperoleh mahasiswa melalui proses pembelajaran mampu diterapkan ketika berhadapan dengan tantangan nyata.
“Juara satu bukan garis akhir. Ini menjadi bukti bahwa kerja keras, kekompakan, dan keberanian untuk mencoba mampu membawa kita melampaui batas yang sebelumnya kita anggap sulit. Setelah ini, kami ingin terus belajar dan membuktikan bahwa mahasiswa Teknik Mesin UM Metro mampu bersaing dan menghasilkan karya yang lebih baik,” ujar Diki Wahyudi.
Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa Teknik Mesin tidak berhenti pada teori dan aktivitas perkuliahan. Keberanian mengikuti kompetisi membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kemampuan teknis, kreativitas, kerja sama tim, sekaligus membangun pengalaman menghadapi persaingan di luar lingkungan kampus.
Bagi Program Studi Teknik Mesin UM Metro, prestasi Diki, Egi, dan Kaka menjadi energi untuk terus mendorong mahasiswa mengambil lebih banyak peluang kompetisi. Sebab, kemampuan tidak cukup hanya dipelajari—ia perlu diuji, dibuktikan, dan dikembangkan.
Prestasi ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui penguatan kompetensi, kreativitas, dan pengalaman belajar mahasiswa di luar kelas.
Juara 1 telah diraih. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa prestasi ini bukan puncak, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh.
